<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>SatuBuku Homepage &#187; ::Umum::</title>
	<atom:link href="http://www.satubuku.net/category/umum/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.satubuku.net</link>
	<description>Stop Thinking, Do Something!</description>
	<lastBuildDate>Thu, 12 Aug 2010 02:17:45 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>:: Need your participation ::</title>
		<link>http://www.satubuku.net/2010/08/12/need-your-participation/</link>
		<comments>http://www.satubuku.net/2010/08/12/need-your-participation/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Aug 2010 02:17:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arimogi</dc:creator>
				<category><![CDATA[::Umum::]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.satubuku.net/?p=89</guid>
		<description><![CDATA[We are need your participation and support.
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>We are need your participation and support.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.satubuku.net/2010/08/12/need-your-participation/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>:: Quote of the Day ::</title>
		<link>http://www.satubuku.net/2010/04/16/quote-of-the-day/</link>
		<comments>http://www.satubuku.net/2010/04/16/quote-of-the-day/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Apr 2010 01:51:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arimogi</dc:creator>
				<category><![CDATA[::Umum::]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.satubuku.net/2010/04/16/quote-of-the-day/</guid>
		<description><![CDATA[Life is the bridge you must build.

SatuBuku.net
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Life is the bridge you must build.</p>
<p>
<a href="http://www.satubuku.net">SatuBuku.net</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.satubuku.net/2010/04/16/quote-of-the-day/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>:: Selamat Hari Suci Nyepi dan Tahun Baru Caka 1932 ::</title>
		<link>http://www.satubuku.net/2010/03/15/selamat-hari-suci-nyepi-dan-tahun-baru-caka-1932/</link>
		<comments>http://www.satubuku.net/2010/03/15/selamat-hari-suci-nyepi-dan-tahun-baru-caka-1932/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Mar 2010 05:20:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arimogi</dc:creator>
				<category><![CDATA[::Umum::]]></category>
		<category><![CDATA[SatuBuku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.satubuku.net/?p=84</guid>
		<description><![CDATA[
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://sites.google.com/site/arimogi/home/am_1_Nyepi.jpg" alt="Selamat Hari Suci NYepi dan Tahun Baru Caka 1932" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.satubuku.net/2010/03/15/selamat-hari-suci-nyepi-dan-tahun-baru-caka-1932/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gladian Pinrung Tingkatkan Jiwa Patriotisme</title>
		<link>http://www.satubuku.net/2010/01/17/gladian-pinrung-tingkatkan-jiwa-patriotisme/</link>
		<comments>http://www.satubuku.net/2010/01/17/gladian-pinrung-tingkatkan-jiwa-patriotisme/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 Jan 2010 09:57:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rindra</dc:creator>
				<category><![CDATA[::Umum::]]></category>
		<category><![CDATA[Patriotisme]]></category>
		<category><![CDATA[Pramuka]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.satubuku.net/?p=64</guid>
		<description><![CDATA[Praja Muda Karana atau Pramuka sangat lekat dengan jiwa patriotisme. Gladian Pinrung (Pimpinan Barung) merupakan pemilihan kader untuk meningkatkan jiwa patriotisme dalam kepramukaan.
Gladian Pinrung beberapa waktu lalu diadakan di SD 1 Jinengdalem, tepatnya 19 hingga 20 September 2009. Peserta merupakan seluruh siswa SD yang ada di kecamatan Buleleng. “Masing-masing sekolah diwakili oleh 2 orang, putra [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Praja Muda Karana atau Pramuka sangat lekat dengan jiwa patriotisme. Gladian Pinrung (Pimpinan Barung) merupakan pemilihan kader untuk meningkatkan jiwa patriotisme dalam kepramukaan.</em></p>
<p>Gladian Pinrung beberapa waktu lalu diadakan di SD 1 Jinengdalem, tepatnya 19 hingga 20 September 2009. Peserta merupakan seluruh siswa SD yang ada di kecamatan Buleleng. “Masing-masing sekolah diwakili oleh 2 orang, putra dan putri yang berjumlah 178 orang,” terang Drs. Gede Mahayana, Ketua Panitia Gladian Pinrung.<br />
<span id="more-64"></span><br />
Selama dua hari satu malam, peserta berkemah di areal SD 1 Jinengdalem memakai tenda yang telah dipersiapkan panitia. Berbagai materi kegiatan pun diberikan, seperti teknik kepramukaan, LKBB (Latihan Keterampilan Baris Berbaris), tali temali, api unggun, <em>wade game</em>, sulap ala pramuka, dan <em>rigem</em> atau riang gembira.<br />
“<em>Wade game</em> dilaksanakan di sekitar lingkungan sekolah Jinengdalem,” ujar Mahayana. Panitia juga menghadirkan narasumber dari Kwarcab, diantaranya Kak Slamet AR, Kak Sebrut, Kak Vegas, Kak Swastika, dan Kak Mahayana yang juga ketua panitia acara ini.</p>
<p>Materi yang terbilang unik adalah sulap ala pramuka. Bagaimana memasukkan rantai ke dalam cincin, tapi begitu ditarik cincin lepas dari rantai. Sulap ala pramuka memiliki makna untuk melatih emosi peserta. “Sulap ini dapat melatih konsentrasi, ketrampilan, ketelitian, dan kesabaran,” tambah Mahayana.<br />
Disamping gladian, kegiatan Pramuka di SD Jinengdalem juga diisi dengan pengukuhan 40 pengurus Kwartir Ranting periode 2009-2012. Kepala UPP, Drs. Ketut Toya Sumarta, M.Pd terpilih menjadi Ketua Kwartir Ranting kecamatan yang baru. “Pengukuhan dilakukan oleh camat Buleleng, Nyoman Susila,” terang Mahayana.</p>
<p>Camat Buleleng sekaligus Ketua Majelis Pembimbing Ranting memberikan beberapa arahan pada kesempatan tersebut. “Saya sangat mendukung kegiatan ini karena bersifat positif,” ujar Drs. Nyoman Susila. Ia juga akan mengunjungi setiap gugus yang ada di kecamatan Buleleng.<br />
Sementara itu, Drs. Ketut Toya Sumarta, M.Pd selaku Ketua Kwartir Ranting yang baru sangat mengharapkan dukungan dan bantuan dari pihak terkait, baik spiritual maupun material. “Hal ini untuk perkembangan Pramuka selaku generasi muda supaya lebih eksis lagi ke depan,” tegas Toya.</p>
<p>Sebelumnya, Pramuka sempat di-cap mati suri, terlalu lama terlelap tanpa kegiatan. Namun, setelah diteliti dan dibina ternyata Pramuka masih menunjukkan geliatnya. Hal senada juga diungkapkan Mahayana, bahwa dalam lingkup lokal masih ada kegiatan Pramuka. “Setiap akhir tahun selalu mengadakan basar atau permainan besar dan pinrung untuk Pramuka Siaga,” tutur Mahayana.</p>
<p>Hanya saja, dukungan terhadap kegiatan itu masih minim sehingga tidak menyentuh lingkup yang lebih besar lagi. Belum lagi kegiatan akademik yang begitu banyak juga menjadi kendala tersendiri.<br />
Untuk itu, perhatian dan dukungan dari semua elemen terutama Camat dan Ka-Kwarcab Kak Slamet Entong masih sangat dibutuhkan. “Melalui gerakan Pramuka, sikap patritisme bisa tumbuh sekaligus menghilangkan pengaruh-pengaruh negative seperti tawuran, premanisme, atau demo terutama di kota-kota besar,” jelas Toya panjang lebar.</p>
<p>Kedisiplinan yang diajarkan dalam Pramuka juga sangat bagus dalam membentuk karakter siswa. Hal ini disampaikan oleh Drs. I Dewa Nyoman Wardana, M.Pd selaku Pengawas TK/SD Kecamatan Buleleng yang turut hadir dalam kegiatan gladian pinrung. “Dasa Dharma Pramuka dan Tri satya termasuk permainan yang riang gembira sangat bagus untuk membentuk mental dan sikap siswa yang positif,” ujarnya. Manfaat tersebut menurutnya tidak hanya dirasakan dalam kehidupan sehari-hari tapi juga kehidupan berbangsa dan bernegara.</p>
<p><strong>Putu Ayu Rindra DP.<br />
Mahasiswa Ilmu Komunikasi 2006<br />
Universitas Brawijaya<br />
Wartawati Tabloid xpOse, Singaraja, Bali</strong></p>
<p><em>(Tulisan ini juga bisa dibaca di <strong>Tabloid Pendidikan xpOse</strong>, Singaraja edisi 6)</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.satubuku.net/2010/01/17/gladian-pinrung-tingkatkan-jiwa-patriotisme/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bongkar, Beber, Koq Malu?</title>
		<link>http://www.satubuku.net/2010/01/17/bongkar-beber-koq-malu/</link>
		<comments>http://www.satubuku.net/2010/01/17/bongkar-beber-koq-malu/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 Jan 2010 09:57:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rindra</dc:creator>
				<category><![CDATA[::Umum::]]></category>
		<category><![CDATA[AIDS]]></category>
		<category><![CDATA[HIV]]></category>
		<category><![CDATA[KSPAN]]></category>
		<category><![CDATA[xpOse]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.satubuku.net/?p=63</guid>
		<description><![CDATA[Epidemi HIV dan penyalahgunaan narkoba menjadi momok tersendiri dalam kehidupan generasi muda. Sedikit saja salah melangkah, maka mereka akan terjerumus selamanya.
Pemberitaan di media massa menyebut penderita AIDS yang disebabkan virus HIV terus meningkat dari tahun ke tahun. Belum lagi penyalahgunaan narkoba juga terus bertambah. Ironisnya, dua momok mengerikan ini justru lebih banyak menimpa generasi muda [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Epidemi HIV dan penyalahgunaan narkoba menjadi momok tersendiri dalam kehidupan generasi muda. Sedikit saja salah melangkah, maka mereka akan terjerumus selamanya.</em></p>
<p>Pemberitaan di media massa menyebut penderita AIDS yang disebabkan virus HIV terus meningkat dari tahun ke tahun. Belum lagi penyalahgunaan narkoba juga terus bertambah. Ironisnya, dua momok mengerikan ini justru lebih banyak menimpa generasi muda penerus bangsa.<br />
<span id="more-63"></span><br />
Dua masalah ini harus dibongkar dan dibeberkan agar dapat ditekan seminimal mungkin, utamanya oleh unsur pemerintah sebagai pemegang kebijakan dan kaum pendidik. Kepedulian Kabupaten Buleleng terhadap masalah HIV dan Narkoba salah satunya melalui kegiatan Jambore KSPAN (Kelompok Siswa Peduli AIDS dan Narkoba), 25-26 September 2009.</p>
<p>Kepanitiaan Jambore KSPAN berasal dari unsur KPA, BNK, Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, Bagian Kesra Setda Buleleng, dan Forum Guru KSPAN Kabupaten Buleleng. Bertempat di monument Tri Mandala Yuda, Jambore yang dilaksanakan untuk kedua kalinya ini melibatkan 250 peserta yang terdiri dari 100 orang siswa SMP, 100 orang siswa SMA, dan 50 orang guru Pembina dari semua sekolah di Kabupaten Buleleng.</p>
<p>“Jambore KSPAN ini dilaksanakan agar kita sama-sama mengetahui makna HIV dan Narkoba,” terang Ketut Witrini, S.Pd, Ketua Panitia Jambore KSPAN 2009. Sejak tahun 2006, menurutnya telah dibentuk kelompok-kelompok siswa peduli AIDS dan Narkoba. “Kami berharap materi tentang AIDS dan Narkoba dapat terintergrasi dengan pelajaran-pelajaran sekolah yang relevan,” tambah Witrini.</p>
<p>Jambore KSPAN merupakan wadah siswa untuk saling tukar pengetahuan, keterampilan dan pengalaman, disamping memberi pemahaman tentang bahaya AIDS dan Narkoba. “Kami memberi tahu bahayanya agar siswa paham dan dapat menghindari,” terang Witrini.</p>
<p>Pada kesempatan ini juga hadir Wakil Bupati Buleleng, Made Arga Pynatih. Menurutnya, Kabupaten Buleleng telah memasang VCT untuk mengontrol dan menjaring HIV di 9 kecamatan termasuk kota sejak tahun anggaran 2007-2008. “Bagi yang dicurigai dan terindikasi akan digiring ke VCT,” tegas Wabup. Baginya, masalah HIV atau AIDS harus dibongkar dan dibeberkan tanpa harus malu hal tersebut di-cap sebagai aib.</p>
<p>Masalah HIV juga harus dicarikan solusinya, disamping dibatasi. “Membatasi apakah cukup hanya dengan moral, pemahaman atau kondom?? Solusi juga harus dicari,” ujar Arga. Apalagi pemerintah telah menyediakan 115 ribu kondom untuk mencegah penularan HIV.<br />
Pemasangan VCT rupanya memberikan hasil bahwa terjadi peningkatan yang signifikan terhadap masalah ini. “Kami berharap KPA provinsi menelaah kasus yang terjadi di Buleleng,” pungkas Arga.(<em>rindz</em>)</p>
<p><strong>Putu Ayu Rindra DP.<br />
Mahasiswa Ilmu Komunikasi 2006<br />
Universitas Brawijaya<br />
Wartawati Tabloid xpOse, Singaraja, Bali</strong></p>
<p><em>(Berita ini juga bisa dibaca di <strong>Tabloid Pendidikan xpOse</strong>, Singaraja)</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.satubuku.net/2010/01/17/bongkar-beber-koq-malu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ni Ketut Puspa Cahyani, Gak Punya Pasangan</title>
		<link>http://www.satubuku.net/2010/01/17/ni-ketut-puspa-cahyani-gak-punya-pasangan/</link>
		<comments>http://www.satubuku.net/2010/01/17/ni-ketut-puspa-cahyani-gak-punya-pasangan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 Jan 2010 09:56:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rindra</dc:creator>
				<category><![CDATA[::Umum::]]></category>
		<category><![CDATA[xpOse]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.satubuku.net/?p=65</guid>
		<description><![CDATA[Sedari kecil, Ni Ketut Puspa Cahyani udah terbiasa nari dari pentas ke pentas. Sejak duduk di bangku SD mpe sekarang kelas XI TMM SMK N 3 Singaraja, doi bahkan rutin pentas di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB). Seabreg prestasi dan penghargaan di tingkat lokal mpe internasional berhasil diraih cewek kelahiran Singaraja, 16 April 1993 ini.
Diantaranya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Sedari kecil, Ni Ketut Puspa Cahyani udah terbiasa nari dari pentas ke pentas. Sejak duduk di bangku SD mpe sekarang kelas XI TMM SMK N 3 Singaraja, doi bahkan rutin pentas di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB). Seabreg prestasi dan penghargaan di tingkat lokal mpe internasional berhasil diraih cewek kelahiran Singaraja, 16 April 1993 ini.</em></p>
<p>Diantaranya juara 1 lomba tari Taruna Jaya se-Bali 2009, juara umum tari Taruna Jaya se-Bali 2009, juara 1 tari Legong Keraton se-Kabupaten, penyaji terbaik se-Indonesia tahun 2007, penari berbakat tari Taruna Jaya se-Bali 2006, dan yang ter-<em>gres </em>juara 1 tari Taruna Jaya mewakili Indonesia. Woww!!<span id="more-65"></span></p>
<p>“Dari belum sekolah aku udah diajarin nari sama mama, soalnya mama dulu juga penari,” cerita Cici -sapaan akrabnya-. Oleh sang mama, Cici diajarin tari condong dan tari legong keraton. Menginjak kelas 5 SD, Cici lantas bergabung dengan Sanggar Dwi Mekar lalu pindah ke sanggar Santhi Budaya saat duduk di bangku SMP hingga sekarang.</p>
<p>Keterlibatannya pada kejuaraan tari tingkat internasional, berawal dari singgahnya sebuah kapal pesiar di Padang Bai beberapa waktu lalu. “Waktu itu diajak nari sama Om disitu, kebetulan ada lomba juga,” terangnya. Cici membawakan tari Taruna Jaya dan akhirnya berhasil menang mewakili Bali sekaligus Indonesia.</p>
<p>Meski sering nari Taruna Jaya, cewek yang pengen banget nari di Mesir ini ternyata lebih suka tari Oleg Tamulilingan. “Tari oleg itu feminim, makanya aku suka. Sayangnya aku gag punya pasangan buat nari oleg,” tuturnya. Saking sukanya, cewek yang ngefans abis sama Rio (pembalap Indonesia) ini cuma butuh waktu 1 bulan buat belajar tari itu.</p>
<p>Hobi boleh aja nari, tapi Cici justru bercita-cita jadi dosen bahasa Inggris. “Kalo nari ke luar negeri, kan malu kalo gag bisa bahasa Inggris,” begitu alasannya. Disisi lain, Cici juga pengen banget jadi foto model. “Tapi bukan model di catwalk, soalnya tinggiku gag cukup,” selorohnya sembari tertawa.</p>
<p>Putri bungsu pasangan Made Pasek Suardika dan Wayan Sunantari ini ngakunya sie deket banget sama kedua ortunya, terutama sang mama. “Aku bisa curhat apa aja sama mama, termasuk soal pacar aku” ujar cewek yang pengen nari di hadapan Avril Lavigne ini. Wahh,,, para cowok jangan patah hati yaa!<strong>(rindz)</strong></p>
<p><strong>(xpOse edisi 6)<br />
</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.satubuku.net/2010/01/17/ni-ketut-puspa-cahyani-gak-punya-pasangan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Spongebob di Pulau Komodo</title>
		<link>http://www.satubuku.net/2010/01/17/spongebob-di-pulau-komodo/</link>
		<comments>http://www.satubuku.net/2010/01/17/spongebob-di-pulau-komodo/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 Jan 2010 09:56:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rindra</dc:creator>
				<category><![CDATA[::Umum::]]></category>
		<category><![CDATA[Pulau Komodo]]></category>
		<category><![CDATA[Spongebob]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.satubuku.net/?p=62</guid>
		<description><![CDATA[Pada tau 7 keajaiban dunia kan?? Saat ini, Taman Nasional Komodo udah lolos ke babak final untuk jadi salah satu dari 7 keajaiban dunia yang baru di tahun 2011. Hmmm,,,let’s vote it for the New 7 Wonder of Nature!!!
Yayasan new7wonder yang menentukan 7 keajaiban dunia saat ini emang memakai system voting dalam menentukan pilihannya. Yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada tau 7 keajaiban dunia kan?? Saat ini, Taman Nasional Komodo udah lolos ke babak final untuk jadi salah satu dari 7 keajaiban dunia yang baru di tahun 2011. Hmmm,,,let’s vote it for the New 7 Wonder of Nature!!!</p>
<p>Yayasan new7wonder yang menentukan 7 keajaiban dunia saat ini emang memakai system voting dalam menentukan pilihannya. Yang berhak menyandang gelar ‘New 7 Wonder’ harus mendapatkan polling tertinggi dalam jajak pendapat via internet. Indonesia pernah kehilangan Candi Borobudur, karena pada tahun 2007 kemarin hanya sedikit warga Indonesia yang berpartisipasi dalam memilih Candi Borobudur.</p>
<p><span id="more-62"></span>Makanya sekarang, hal itu gag boleh terulang lagi sama Pulau Komodo!! Untuk sementara, Pulau ini berada di peringkat 13 untuk kategori Hutan/ Taman Nasional/ Kekayaan Alam. Pulau Komodo harus menduduki peringkat 1 dalam kategori tersebut untuk bisa masuk dalam 7 keajaiban dunia yang baru.<br />
Pulau Komodo bersaing ketat dengan Puerta Princesa di Filipina, Dinosaur Provincial Park di Kanada, Eua National Park di Tonga, Okawongo Delta di Botswana, Hutan Amazon Brazil, Tree if Life, Bialowieza Forest, el Kala National Park, Air Terjun Angle dari Venezuela, sampai Gunung Kilimanjaro dari Tanzania.<br />
Cara buat mendukung Pulau Komodo gampang buangetz… tinggal masuk ke situs www.vote7.com/n7w, dan vote Komodo! Jangan sampe kita kalah voting yaw. Apalagi Indonesia merupakan negara dengan penduduk terbanyak no.4 di dunia. Peluang untuk menang gede banget, asal semua orang Indonesia termasuk ente mendukung abis kampanye ini dengan ikutan voting. Btw, kemenangan Pulau Komodo juga penting low buat nunjukin pada masyarakat dunia kalo Indonesia sangat kaya akan sumber daya alam dan bisa menjadi tujuan wisata dunia.<br />
Kenalan Sama Pulau Komodo<br />
Anyhoo…udah pada tau Pulau Komodo belum?? Kalo belum, sekarang kita bakal ngajak kalian berkenalan dengan pulau cantik yang terletak diantara Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur ini. Sesuai namanya, pulau ini merupakan taman nasional bagi konservasi komodo yang katanya generasi terakhir keluarga Dinosaurus.<br />
Taman Nasional Komodo udah berdiri sejak tahun 1980. Taman Nasional ini memang digunakan sebagai habitat dan tempat konservasi hewan khas Indonesia Tengah, Varanus komodoensis a.k.a komodo. Taman Nasional ini terdiri dari tiga pulau besar, yaitu Pulau Komodo, Rinca, dan Padar.<br />
Komodo adalah reptile purba terbesar di dunia yang masih hidup mpe sekarang, dan cuma hidup di Indonesia!! Makanya, sayang banget kan kalo mpe punah?? Apalagi sekarang, komodo sudah berada pada tahap threatened-vulnerable atau rentan banget sama kepunahan.<br />
Komodo yang masih hidup di alam liar diperkirakan hanya tinggal 4.000-5.000 ekor saja. Populasi ini terbatas menyebar di Pulau Rinca sebanyak 1.300 ekor, Pulau Komodo sebanyak 1.700 ekor, dan sisanya tersebar di pulau-pulau lain. Dari semua jumlah itu, betina yang produktif dan dapat bereproduksi hanya tinggal 350 ekor saja.<br />
Curah hujan di pulau ini kecil banget, malah bisa gag hujan sampe 8 bulan lamanya. Di pulau ini juga bermukim sekitar 4000 penduduk, yang mayoritas berasal dari Bima (Sumbawa), Manggarai, Flores Selatan, dan Bugis (Sulawesi Selatan). Penduduk di sekitar pulau ini dilarang memelihara anjing atau kucing. Kayaknya sie biar gag dimakan sama komodo. Hehehe…<br />
Setiap pengunjung wajib ditemani guide selama berada disini, coz komodo adalah karnivora yang berbahaya. Gerakannya sangat cepat baik di darat atau di laut. Kalo digigit komodo, biasanya manusia akan sulit buat bertahan hidup. Karena sekali gigit, biasanya banyak daging yang tersobek. Belum lagi, mulut komodo juga banyak mengandung bakteri yang bikin infeksi jadi tambah parah.<br />
Disini Juga Ada Spongebob<br />
Meski namanya Pulau Komodo, ternyata gag cuma komodo yang hidup disana. Komodo juga bertetangga dengan berbagai macam fauna unik, misalnya ayam berkaki oranye, tikus endemik atau tikus raksasa, dan rusa timur. Kesan pertama boleh daratan, tapi ternyata pulau ini juga menyimpan keindahan biota laut yang luar biasa.<br />
Karena ternyata luas daratan hanya 603 km2 dari luas total 1817 km2. Sisanya adalah lautan yang mencakup ekosistem laut yang luar biasa lengkap dengan terumbu karang, hutan bakau, lapisan rumput laut, gunung laut, dan teluk-teluk. Termasuk juga ribuan spesies hewan laut, mulai dari Spongebob alias hewan spons, dugong, penyu, hiu, lumba-lumba, sampe paus.<br />
Kalo mau tamasya ke pulau ini, ente bisa berangkat dari Denpasar ke Labuan Bajo (Flores Barat) atau Bima (Sumbawa Timur). Bisa lewat udara, atau naik kapal feri dan bus lewat laut dan darat.(rindz/gadis/net)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.satubuku.net/2010/01/17/spongebob-di-pulau-komodo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ketika Insting itu Harus Dibendung</title>
		<link>http://www.satubuku.net/2009/10/04/ketika-insting-itu-harus-dibendung/</link>
		<comments>http://www.satubuku.net/2009/10/04/ketika-insting-itu-harus-dibendung/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Oct 2009 14:33:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arimogi</dc:creator>
				<category><![CDATA[::Pendidikan::]]></category>
		<category><![CDATA[::Umum::]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.satubuku.net/?p=34</guid>
		<description><![CDATA[Tubuh-tubuh mungil bergerombol dan menebar bau matahari. Rambut kuning, berkulit legam dan lengket oleh kotoran aspal. Masing-masing memegang alat musik seadanya. Di lampu merah...
Masa kecil adalah masa yang paling indah. Dimanja oleh orang tua dengan limpahan kasih sayang. Bebas bermain dengan teman-teman sebaya. Serta mengejar mimpi di sekolah. Tapi bagi ”mereka”, bayangan itu seolah lesap [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Tubuh-tubuh mungil bergerombol dan menebar bau matahari. Rambut kuning, berkulit legam dan lengket oleh kotoran aspal. Masing-masing memegang alat musik seadanya. Di lampu merah...</em></p>
<p>Masa kecil adalah masa yang paling indah. Dimanja oleh orang tua dengan limpahan kasih sayang. Bebas bermain dengan teman-teman sebaya. Serta mengejar mimpi di sekolah. Tapi bagi ”mereka”, bayangan itu seolah lesap oleh hiruk pikuk jalanan.<span id="more-34"></span></p>
<p>Mereka adalah anak-anak yang tidak berkesempatan untuk menjalani hidup dengan normal selayaknya anak kecil. Tak ada kesempatan untuk bermain atau bersekolah. Di usia yang terbilang dini, mereka harus sudah memikirkan ”Bagaimana hidupku hari ini? Hari ini aku makan apa?”. Jalanan adalah rumah mereka. Pojok lampu merah adalah tempat mereka mengais rejeki sekaligus belajar tentang kehidupan. Itu mereka lakoni dari pagi hingga siang, petang, bahkan malam. Padahal anak-anak lain yang kebetulan beruntung, menghabiskan waktunya di sekolah. Menuntut ilmu dan belajar berbagai hal. Ironis, padahal pemerintah telah berikrar ”fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara”, tapi mereka tetap saja ada memenuhi rongga-rongga jalanan.</p>
<p>Tidakkah ada yang menyadari bahwa mereka adalah aset bangsa yang sangat berharga. Mereka juga tonggak penerus bangsa. Mereka adalah penentu bagaimana bangsa ini di masa depan. Tapi hanya sedikit yang peduli, karena mereka lebih banyak menerima cibiran dan selalu saja dipandang sebelah mata.<br />
Sebelum terlambat, anak-anak ini benar-benar harus segera ditarik dari jalanan. Semakin lama mereka berkutat di jalanan yang keras, maka akan semakin sulit untuk menawarkan kehidupan normal pada mereka. Karena tempaan jalanan yang keras akan membuat mereka semakin mencintai jalanan dan tidak akan betah ketika berada di area ”rumahan”.</p>
<p><strong>Melongok Rumah Singgah</strong></p>
<p>Sebenarnya telah banyak berdiri rumah-rumah singgah yang bersedia menampung anak-anak ini. Dua diantaranya adalah Jaringan Kemanusiaan Jawa Timur (JKJT, red) dan sanggar Griya Baca yang ada di kota Malang, Jawa Timur. Namun, ada fenomena menarik yang terjadi di JKJT. Beberapa anak yang telah ditampung disitu ada yang merasa ”tidak betah” dan akhirnya kembali turun ke jalan. Bukan perkara tempat yang tidak nyaman, atau sang pemilik yang memperlakukan buruk tapi memang lantaran kondisi psikis dari anak itu sendiri.<br />
Agustinus Teja, pemilik JKJT sendiri tidak pernah memaksa mereka tinggal dan hidup wajar di JKJT untuk menikmati masa kanak mereka. “Biarkan keinginan hidup wajar itu muncul dari keinginan mereka sendiri,” begitu jawab Teja yang menerapkan home schooling dan mengajarkan musik di JKJT. Teja yang juga Ketua Perlindungan Anak Kota Malang mengakui jika insting jalanan mereka-lah yang kembali menarik untuk turun lagi ke jalan.<br />
JKJT menampung sekitar 17 hingga 25 anak, padahal menurut Teja masih ada sekitar 218 anak di Malang yang berkeliaran di jalan tanpa rumah dan orang tua. Di JKJT, memang tidak semua anak bisa ditampung dengan bebas. Selain terkendala tempat, Teja juga enggan menyatukan anak laki-laki dan perempuan untuk menghindari hal-hal amoral. Tak heran, begitu masuk JKJT saya disambut oleh sekumpulan anak laki-laki. ”Doakan saja mudah-mudahan ada rejeki agar bisa membangun tempat untuk menampung semua anak-anak itu,” tuturnya penuh harap. Di sisi lain, Teja adalah tipikal orang yang sangat ketat dalam menerima bantuan dari orang lain untuk menghindari pihak-pihak yang hendak memanfaatkan anak-anak itu. Menurutnya, di Malang memang banyak rumah singgah, tapi sayangnya beberapa rumah singgah hanya sekedar mengobyekkan mereka untuk mendapatkan “proyek” besar dan bernilai rupiah tentunya.</p>
<p><strong>Pola ”Mendampingi”</strong></p>
<p>JKJT menerapkan sistem pendampingan dalam mendidik anak-anak jalanan. Mereka diarahkan agar bisa melihat kekurangan mereka sebagai kelebihan. Teja sendiri mengakui bahwa anak-anak yang telah terbiasa hidup di jalan rata-rata pintar, hanya saja mereka tidak memiliki kesempatan yang bagus. Mereka pun memiliki spirit dan power untuk sama dengan yang lain. Satu hal yang patut dicontoh, anak-anak jalanan juga memiliki rasa solidaritas dan disiplin yang tinggi.<br />
Terpenting yang ditanamkan Teja pada ”anak-anak”nya adalah kemandirian dan keharusan untuk memiliki mimpi. ”Kalau udah punya mimpi, maka kita (JKJT) akan bantu untuk memperjuangkan mimpi itu,” kata Teja menegaskan. Saat ini JKJT menerapkan home schooling bagi anak-anak yang tinggal disana karena rata-rata memang tidak mengecap pendidikan formal. Teja dibantu oleh volunteer dari bebagai kalangan, mulai dari mahasiswa, guru, hingga native speaker yang mengajarkan bahasa inggris.<br />
Berbeda dengan JKJT, anak-anak di Sanggar Griya Baca milik Triyanto 80% sudah mengecap bangku sekolah. Meski demikian, Griya Baca tetap memberikan pelajaran rutin setiap hari Selasa dan Sabtu sore di alun-alun Kota Malang. ”Mereka diajarkan membaca, menulis, mengaji, bahasa inggris, menyanyi, dan banyak lagi,” tutur Triyanto saat ditemui di salah satu acara kemahasiswaan Universitas Brawijaya Malang yang kebetulan mengundang Sanggar Griya Baca.<br />
Tapi perlu diingat satu hal. Meski hidup mereka (anak-anak jalanan, red) keras dan terkadang tidak bersahabat, mereka tidak pernah mengharap belas kasihan dari siapapun. Tapi anggaplah mereka menjadi bagian dari hidup kita, bahwa mereka sama seperti orang-orang yang kebetulan hidup lebih beruntung. Jadi, tugas kita adalah bagaimana memunculkan kesadaran hidup wajar dalam benak anak-anak tersebut. </p>
<p><strong>Putu Ayu Rindra DP.<br />
Mahasiswa Ilmu Komunikasi 2006<br />
Universitas Brawijaya</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.satubuku.net/2009/10/04/ketika-insting-itu-harus-dibendung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Esensi Kebodohan</title>
		<link>http://www.satubuku.net/2009/10/03/esensi-kebodohan/</link>
		<comments>http://www.satubuku.net/2009/10/03/esensi-kebodohan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Oct 2009 16:42:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arimogi</dc:creator>
				<category><![CDATA[::Umum::]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.satubuku.net/?p=20</guid>
		<description><![CDATA[“Bodoh kamu...!”- Mungkin kita hanya tersenyum ketika mendengar seseorang berteriak demikian kepada orang lain, atau mungkin kita tersenyum kecut ketika seseorang meneriaki kita demikian, bisa juga kita langsung marah-marah kepada orang yang berteriak demikian. Namun, sejujurnya, apakah kita tahu arti ‘bodoh’ atau ‘kebodohan’ itu sendiri? Apakah kita sudah dapat memaknai bodoh atau kebodohan itu sendiri?

Coba [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“<em>Bodoh kamu...!</em>”- Mungkin kita hanya tersenyum ketika mendengar seseorang berteriak demikian kepada orang lain, atau mungkin kita tersenyum kecut ketika seseorang meneriaki kita demikian, bisa juga kita langsung marah-marah kepada orang yang berteriak demikian. Namun, sejujurnya, apakah kita tahu arti ‘bodoh’ atau ‘kebodohan’ itu sendiri? Apakah kita sudah dapat memaknai bodoh atau kebodohan itu sendiri?<br />
<span id="more-20"></span><br />
Coba kita lakukan sebuah ujian kepada diri kita sendiri, tanyakan kepada diri kita sendiri, apakah ada hal-hal yang tidak kita ketahui? Coba renungkan dan tanyakan kepada hati kecil kita, hal-hal apa saja yang telah kita ketahui sejauh ini? Mungkin sebagai seorang tukang buat program (baca: programmer), yang saya ketahui sampai saat ini adalah bagaimana membangun sebuah prosedur dari sebuah flowchart yang ada, yang dirancang oleh seorang desainer sistem (baca: design analyst). Mungkin juga, bagaimana cara menghubungkan sebuah sistem basis data dengan sebuah penghubung pengguna grafis, atau membuat sebuah program jual-beli sebuah swalayan. Tapi di luar itu semua, masih banyak hal-hal yang tidak saya ketahui, dan saya juga belum mengetahui apa saja hal-hal tersebut, tapi saya yakin bahwa programming tidak hanya terbatas pada hal-hal di atas. Begitu juga halnya dengan bidang-bidang yang lain, mungkin dalam hukum, jelas banyak yang saya tidak ketahui dalam bidang hukung, apalagi bidang kesehatan khususnya kedokteran.</p>
<p>Jawaban kita mungkin berbeda-beda tentang hal-hal yang tidak kita ketahui. Mungkin juga ada yang menjawab ‘saya tahu semuanya…’. Ada dua kemungkinan tentang hal itu, bisa jadi dia benar, dan bisa jadi dia memang demikian, maksudnya? Maksudnya adalah, bisa jadi dia mengetahui semua hal, termasuk yang tidak dia ketahui, dan bisa jadi dia memang mengetahui semua hal. Bingung? Tidak perlu bingung, sebenarnya sudah banyak buku yang membahas tentang hal ini. Beberapa di antaranya mengatakan : ‘Orang bodoh adalah orang yang tidak mengetahui hal-hal yang tidak diketahuinya’, ya, itu memang benar, di dunia ini hanya ada dua tipe manusia, bukan laki-laki atau perempuan, tapi tipe pertama adalah orang-orang yang tidak mengetahui hal-hal yang tidak diketahuinya, dan tipe kedua adalah orang-orang yang mengetahui hal-hal yang tidak diketahuinya. Perbandingan antara orang tipe pertama dan tipe kedua ini sangatlah jauh, hampir 95% orang di dunia ini adalah tipe pertama (data ini tidak saya dapatkan dengan survei, namun saya dapatkan dari buku-buku yang saya baca, salah satunya adalah buku karangan….. hmmmm….. saya akui, saya lupa, mungkin berikutnya akan saya tuliskan, mohon maaf). Namun orang-orang tipe pertama inilah yang membantu orang-orang tipe kedua untuk mencapai apa yang diinginkannya (baca: mencapai sukses). Dapat saya katakan, Henry Ford contohnya, beliau adalah bapak industri mobil dunia, di usia mudanya, Henry Ford adalah seorang petani, namun beliau tidak puas dengan keadaannya saat itu, dan tahu bahwa ada hal-hal yang tidak diketahuinya, selain dalam bidang pertanian, akhirnya mencoba bekerja sebagai buruh di sebuah pabrik mobil, selain itu beliau juga memperbaiki jam tangan pada malam harinya. Henry Ford juga sempat bekerja di sebuah pabrik pembuatan kapal, namun karena rasa ingin tahu yang besar terus menerus memikirkan industri yang dapat mengubah sejarah. Beliau akhirnya mengambil balap mobil sebagai awal dari industrinya.</p>
<p>Pernah beliau diuji oleh seorang kawannya, dengan diberi pertanyaan tentang berbagi hal, mulai dari sejarah Amerika, sampai sejarah dunia, mulai dari matematika sampai ilmu ekonomi, namun hampir semua pertanyaan itu tidak dapat dijawab olehnya, namun Henry Ford menjawab, ‘saya tidak mengetahui jawabannya, namun saya dapat mencari orang yang mengetahui jawabannya’. Apa hikmah yang dapat kita ambil? Yang pertama, Henry Ford adalah orang tipe kedua, namun beliau dapat menjadi sukses memimpin industrinya dengan mengumpulkan orang-orang tipe pertama. Beliau bahkan mengakui dengan lapang dada bahwa beliau tidak mengetahui jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh kawannya tersebut, seharusnya kita mencontoh sikap ini. Namun beliau juga dapat mencari solusi dari masalah itu, yaitu mencari orang-orang yang mengetahui jawabannya. Kita perlu meniru sikap yang sangat bersahaja ini, kita perlu mengakui apa yang tidak kita ketahui, kita juga harus mengakui semua kekurangan kita, namun kita harus memikirkan solusi atas kekurangan kita.</p>
<p>Kita jangan pernah takut atau kecewa jika dikatakan bodoh oleh orang lain, namun berterima kasihlah, karena kita telah diberi tahu kekurangan kita, dan ini berarti kita telah mengetahui satu hal baru lagi. Sekarang kita tinggal pilih, kita mau menjadi orang tipe pertama yang tidak mengetahui apa yang tidak kita ketahui atau menjadi orang tipe kedua, yang mengetahui apa yang tidak kita ketahui.</p>
<p>Ari Mogi.</p>
<p>*Tulisan ini juga pernah dipublikasikan pada personal blog : http://www.cybermogi.net</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.satubuku.net/2009/10/03/esensi-kebodohan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kenyamanan yang Menyesatkan</title>
		<link>http://www.satubuku.net/2009/10/02/kenyamanan-yang-menyesatkan/</link>
		<comments>http://www.satubuku.net/2009/10/02/kenyamanan-yang-menyesatkan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Oct 2009 13:46:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lisna</dc:creator>
				<category><![CDATA[::Motivasi::]]></category>
		<category><![CDATA[::Umum::]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.satubuku.net/?p=16</guid>
		<description><![CDATA[Mungkin judul di atas terdengar sedikit aneh atau bahkan sangat aneh. Di saat setiap orang berlomba-lomba untuk mencari yang namanya kenyamanan, di sini kenyamanan malah dibilang sesuatu yang menyesatkan. Tapi jangan berburuk sangka dulu. Kenyamanan yang dimaksudkan di sini bukanlah kenyaman yang identik dengan rileks. Namun lebih ditekankan pada kenyamanan pada proses-proses, alur atau suatu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mungkin judul di atas terdengar sedikit aneh atau bahkan sangat aneh. Di saat setiap orang berlomba-lomba untuk mencari yang namanya kenyamanan, di sini kenyamanan malah dibilang sesuatu yang menyesatkan. Tapi jangan berburuk sangka dulu. Kenyamanan yang dimaksudkan di sini bukanlah kenyaman yang identik dengan rileks. Namun lebih ditekankan pada kenyamanan pada proses-proses, alur atau suatu norma-norma yang sudah terkesan lumrah dan berlaku di masyarakat. Kenyamanan di sini lebih mengacu pada buku yang ditulis oleh Edward De Bono, Berpikir Lateral, yang mengidentikkannya dengan keterbukaan. Keterbukaan itu seperti jalur-jalur utama yang sudah dibukakan atau dibuat oleh orang lain dan kita merasa nyaman dengan jalur-jalur itu sehingga menghindarkan kita untuk berpikir atau membuat jalur-jalur baru.<span id="more-16"></span></p>
<p>Sebagai ilustrasi, berikut ini adalah sebuah peta suatu tempat yang sering kita kunjungi setiap hari Minggu, Purnama atau Tilem bagi yang religius.<br />
<a href="http://1.bp.blogspot.com/_26PgKjjzyJY/SLzma63nybI/AAAAAAAAAB8/fIz_X4JcuVw/s1600-h/untitled.JPG"><img style="margin: 0px auto 10px;text-align: center;cursor: pointer" src="http://1.bp.blogspot.com/_26PgKjjzyJY/SLzma63nybI/AAAAAAAAAB8/fIz_X4JcuVw/s200/untitled.JPG" border="0" alt="" /></a><span> </span></p>
<p>Bagi kawan-kawan yang sering sembahyang ke Pura Segara Surabaya, khususnya yang datang dari arah barat menuju pura yang terletak di ujung utara (lihat Gambar 1). Ada dua jalan alternatif dari Jalan Kenjeran. Pertama lewat jalur utama yang sering dilewati yaitu lewat pom bensin, belok kiri, lewat kantor pos, kemudian belok kanan dan terus saja lurus menuju pura. Alternatifnya adalah dengan melewati perumahan Gading Pantai yang langsung tembus di samping gereja. Dulu sebelum saya tahu jalur kedua, saya selalu melewati jalur pertama karena saya sendiri tidak pernah berusaha mencari jalan yang lebih pendek. Ditambah lagi, saya tidak tahu bahwa ada jalur lebih pendek plus saya sendiri sudah merasa nyaman dengan jalur ini. Mungkin seandainya tahu lebih awal, saya akan coba cari-cari. Padahal saya sering lewat di depan jalan Gading Pantai ini tetapi tidak pernah saya jelajahi karena memang tidak ada alasan untuk itu. Seandainya saya lebih awal menjelajahinya, itu akan menyingkat banyak waktu. Saya mengetahui jalan ini secara terpaksa ketika kebetulan suatu hari jalan di depan kantor pos ditutup dan semua kendaraan dari arah Kenjeran diarahkan menuju jalan Gading Pantai ini. Akhirnya.....</p>
<p>Cerita diatas bisa dijadikan pengantar tentang tulisan ini. Petunjuk-petunjuk semula yang kita peroleh (lewat jalur pertama) menjadi suatu pakem utama, merupakan jalur klise yang sangat kita kenal, dan merupakan petunjuk yang paling mudah dan nyaman. Sehingga kita tidak pernah merasa perlu menyimpang dari hal ini. Inilah yang saya maksudkan bagaimana kenyamanan menutupi otak kita untuk berpikir mencari alternatif lain dari berbagai persoalan karena merasa alternatif yang ada sudah cukup dan bisa untuk menyelesaikannnya (mencapai tujuan).<br />
Ada tiga jalur yang cukup menarik untuk diamati pada gambar di bawah ini.<br />
<a href="http://3.bp.blogspot.com/_26PgKjjzyJY/SLzm8_iRPGI/AAAAAAAAACE/bTVwyMsbKto/s1600-h/55.JPG"><img style="margin: 0px auto 10px;text-align: center;cursor: pointer" src="http://3.bp.blogspot.com/_26PgKjjzyJY/SLzm8_iRPGI/AAAAAAAAACE/bTVwyMsbKto/s200/55.JPG" border="0" alt="" /></a><br />
Mungkin ada yang beranggapan bahwa Jalur 1 dan 2 merupakan jalur sulit, karena terdapat halangan untuk maju. Tapi sebenarnya, dalam penerapan kita untuk pola berpikir, Jalur 3 lah yang paling berbahaya. Rintangan yang ada pada Jalur 1 dan 2 sudah dapat kita ketahui dengan jelas sehingga kita harus berpikir mencari alternatif lain. Sedangkan Jalur 3 merupakan jalur yang paling berbahaya yang memicu ilusi kenyamanan. Kita akan menjadi malas berpikir karena jalur yang terbentang di depan kita sudah terasa nyaman dan kita menutup diri untuk mencari jalur lain yang mungkin lebih baik. Intinya, terhalang oleh kenyamanan adalah kita tidak dapat petunjuk mengenai letak rintangan ini. Rintangan ini bisa teletak di sepanjang jalur yang tampak mulus seperti Jalur 3.</p>
<p>Lanjut ke Gambar 3, agar tidak bosan dengan tulisan terus.</p>
<p><a href="http://1.bp.blogspot.com/_26PgKjjzyJY/SLznJJrWnZI/AAAAAAAAACM/jpGmVkY2NrE/s1600-h/6666.JPG"><img style="margin: 0px auto 10px;text-align: center;cursor: pointer" src="http://1.bp.blogspot.com/_26PgKjjzyJY/SLznJJrWnZI/AAAAAAAAACM/jpGmVkY2NrE/s200/6666.JPG" border="0" alt="" /></a><br />
Katakanlah kita disuruh menyusun kepingan seperti gambar diatas menjadi bentuk yang sederhana. Mungkin untuk susunan pertama, kita akan dengan mudah menyelesaikannya. Permasalahan bertambah rumit pada soal kedua, dimana kita harus memasukkan bangunan kedua kedalam bentuk segiempat yang sudah kita bentuk dengan tiga bangunan, namun tetap mendapatkan bentuk yang sederhana. Bentuk awal, dimana sebuah segiempat kecil yang melekat di sudut bangunan besar, telah memberikan suatu bentuk dasar yang kuat di pikiran kita. Kita biasanya enggan merombak bentuk dasar yang sudah ada karena menganggap itu merupakan pola atau susunan yang sudah benar dan baku. Sehingga ketika kita harus memasukkan bentuk yang baru, kita akan kesulitan dan pusing sendiri. Ternyata, untuk tetap mendapatkan bentuk sederhana dengan menyertakan bangunan yang baru, kita harus merombak tatanan awal. Dengan itu, bangunan baru teerrsebut baru dapat masuk.</p>
<p>Mungkin ini juga bisa menjadi ilustrasi bagi ketua dan jajaran pengurus suatu organisasi dalam menjalankan kepengurusannya dan membentuk suatu program kerja. Ketika kita menerima tongkat estafet dari suatu kepengurusan organisasi, jangan terpaku bahwa apa yang diwariskan kepada kita merupakan hal yang sudah baku. Kita bisa merombak tatanan organisasi agar hal-hal baru tetap bisa kita adopsi sesuai perkembangan dan kebutuhan tanpa merubah bentuk organisasi secara total. Seperti gambar diatas, bentuknya tetap kotak, kendati ada sedikit perubahan susunan di dalamnya. Mungkin di suatu organisasi semisal UKKH, kita sudah biasa menerima warisan kegiatan seperti bakti sosial dan tirta yatra, tetapi jangan terpaku menerima itu saja. Tanyakan apakah itu sudah cukup dan dapat mengakomodasi kebutuhan mahasiswa sekarang! Jika tidak, masukkan suatu kegiatan baru sehingga kegiatan organisasi tidak monoton dari waktu ke waktu. Ini mungkin bisa diterapkan untuk menghindari halangan dari kenyamanan di suatu organisasi, dimana warisan-warisan dari kepengurusan lalu sepertinya sudah bagaikan jalur baypas sehingga kita hanya tinggal meneruskan.<br />
OK, sekian dulu. Mudah-mudahan bisa ada lagi untuk edisi-edisi berikutnya. Sebagai pesan penutup, proses terhalang oleh kenyamanan adalah sangat umum dalam pemikiran. Namun kedepannya, kita harus dapat sedikit demi sedikit mengikis bahwa pola berpikir seperti itu, yang mengganggap sesuatu atau cara–cara yang sudah berlaku secara umum, sudah memadai atau paling baik. Tetaplah mencari dan mencari, siapa tahu ada alternatif jalan lain menuju pura di Kenjeran selain dua jalan yang disebutkan pada awal tulisan ini. Ntar kasi tau ya...</p>
<p>I Putu Lisna Kurniawan<br />
Ketua Harian TPKH ITS 2006/2007</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.satubuku.net/2009/10/02/kenyamanan-yang-menyesatkan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
