Gladian Pinrung Tingkatkan Jiwa Patriotisme
Praja Muda Karana atau Pramuka sangat lekat dengan jiwa patriotisme. Gladian Pinrung (Pimpinan Barung) merupakan pemilihan kader untuk meningkatkan jiwa patriotisme dalam kepramukaan.
Gladian Pinrung beberapa waktu lalu diadakan di SD 1 Jinengdalem, tepatnya 19 hingga 20 September 2009. Peserta merupakan seluruh siswa SD yang ada di kecamatan Buleleng. “Masing-masing sekolah diwakili oleh 2 orang, putra dan putri yang berjumlah 178 orang,” terang Drs. Gede Mahayana, Ketua Panitia Gladian Pinrung.
Selama dua hari satu malam, peserta berkemah di areal SD 1 Jinengdalem memakai tenda yang telah dipersiapkan panitia. Berbagai materi kegiatan pun diberikan, seperti teknik kepramukaan, LKBB (Latihan Keterampilan Baris Berbaris), tali temali, api unggun, wade game, sulap ala pramuka, dan rigem atau riang gembira.
“Wade game dilaksanakan di sekitar lingkungan sekolah Jinengdalem,” ujar Mahayana. Panitia juga menghadirkan narasumber dari Kwarcab, diantaranya Kak Slamet AR, Kak Sebrut, Kak Vegas, Kak Swastika, dan Kak Mahayana yang juga ketua panitia acara ini.
Materi yang terbilang unik adalah sulap ala pramuka. Bagaimana memasukkan rantai ke dalam cincin, tapi begitu ditarik cincin lepas dari rantai. Sulap ala pramuka memiliki makna untuk melatih emosi peserta. “Sulap ini dapat melatih konsentrasi, ketrampilan, ketelitian, dan kesabaran,” tambah Mahayana.
Disamping gladian, kegiatan Pramuka di SD Jinengdalem juga diisi dengan pengukuhan 40 pengurus Kwartir Ranting periode 2009-2012. Kepala UPP, Drs. Ketut Toya Sumarta, M.Pd terpilih menjadi Ketua Kwartir Ranting kecamatan yang baru. “Pengukuhan dilakukan oleh camat Buleleng, Nyoman Susila,” terang Mahayana.
Camat Buleleng sekaligus Ketua Majelis Pembimbing Ranting memberikan beberapa arahan pada kesempatan tersebut. “Saya sangat mendukung kegiatan ini karena bersifat positif,” ujar Drs. Nyoman Susila. Ia juga akan mengunjungi setiap gugus yang ada di kecamatan Buleleng.
Sementara itu, Drs. Ketut Toya Sumarta, M.Pd selaku Ketua Kwartir Ranting yang baru sangat mengharapkan dukungan dan bantuan dari pihak terkait, baik spiritual maupun material. “Hal ini untuk perkembangan Pramuka selaku generasi muda supaya lebih eksis lagi ke depan,” tegas Toya.
Sebelumnya, Pramuka sempat di-cap mati suri, terlalu lama terlelap tanpa kegiatan. Namun, setelah diteliti dan dibina ternyata Pramuka masih menunjukkan geliatnya. Hal senada juga diungkapkan Mahayana, bahwa dalam lingkup lokal masih ada kegiatan Pramuka. “Setiap akhir tahun selalu mengadakan basar atau permainan besar dan pinrung untuk Pramuka Siaga,” tutur Mahayana.
Hanya saja, dukungan terhadap kegiatan itu masih minim sehingga tidak menyentuh lingkup yang lebih besar lagi. Belum lagi kegiatan akademik yang begitu banyak juga menjadi kendala tersendiri.
Untuk itu, perhatian dan dukungan dari semua elemen terutama Camat dan Ka-Kwarcab Kak Slamet Entong masih sangat dibutuhkan. “Melalui gerakan Pramuka, sikap patritisme bisa tumbuh sekaligus menghilangkan pengaruh-pengaruh negative seperti tawuran, premanisme, atau demo terutama di kota-kota besar,” jelas Toya panjang lebar.
Kedisiplinan yang diajarkan dalam Pramuka juga sangat bagus dalam membentuk karakter siswa. Hal ini disampaikan oleh Drs. I Dewa Nyoman Wardana, M.Pd selaku Pengawas TK/SD Kecamatan Buleleng yang turut hadir dalam kegiatan gladian pinrung. “Dasa Dharma Pramuka dan Tri satya termasuk permainan yang riang gembira sangat bagus untuk membentuk mental dan sikap siswa yang positif,” ujarnya. Manfaat tersebut menurutnya tidak hanya dirasakan dalam kehidupan sehari-hari tapi juga kehidupan berbangsa dan bernegara.
Putu Ayu Rindra DP.
Mahasiswa Ilmu Komunikasi 2006
Universitas Brawijaya
Wartawati Tabloid xpOse, Singaraja, Bali
(Tulisan ini juga bisa dibaca di Tabloid Pendidikan xpOse, Singaraja edisi 6)