Bongkar, Beber, Koq Malu?
Epidemi HIV dan penyalahgunaan narkoba menjadi momok tersendiri dalam kehidupan generasi muda. Sedikit saja salah melangkah, maka mereka akan terjerumus selamanya.
Pemberitaan di media massa menyebut penderita AIDS yang disebabkan virus HIV terus meningkat dari tahun ke tahun. Belum lagi penyalahgunaan narkoba juga terus bertambah. Ironisnya, dua momok mengerikan ini justru lebih banyak menimpa generasi muda penerus bangsa.
Dua masalah ini harus dibongkar dan dibeberkan agar dapat ditekan seminimal mungkin, utamanya oleh unsur pemerintah sebagai pemegang kebijakan dan kaum pendidik. Kepedulian Kabupaten Buleleng terhadap masalah HIV dan Narkoba salah satunya melalui kegiatan Jambore KSPAN (Kelompok Siswa Peduli AIDS dan Narkoba), 25-26 September 2009.
Kepanitiaan Jambore KSPAN berasal dari unsur KPA, BNK, Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, Bagian Kesra Setda Buleleng, dan Forum Guru KSPAN Kabupaten Buleleng. Bertempat di monument Tri Mandala Yuda, Jambore yang dilaksanakan untuk kedua kalinya ini melibatkan 250 peserta yang terdiri dari 100 orang siswa SMP, 100 orang siswa SMA, dan 50 orang guru Pembina dari semua sekolah di Kabupaten Buleleng.
“Jambore KSPAN ini dilaksanakan agar kita sama-sama mengetahui makna HIV dan Narkoba,” terang Ketut Witrini, S.Pd, Ketua Panitia Jambore KSPAN 2009. Sejak tahun 2006, menurutnya telah dibentuk kelompok-kelompok siswa peduli AIDS dan Narkoba. “Kami berharap materi tentang AIDS dan Narkoba dapat terintergrasi dengan pelajaran-pelajaran sekolah yang relevan,” tambah Witrini.
Jambore KSPAN merupakan wadah siswa untuk saling tukar pengetahuan, keterampilan dan pengalaman, disamping memberi pemahaman tentang bahaya AIDS dan Narkoba. “Kami memberi tahu bahayanya agar siswa paham dan dapat menghindari,” terang Witrini.
Pada kesempatan ini juga hadir Wakil Bupati Buleleng, Made Arga Pynatih. Menurutnya, Kabupaten Buleleng telah memasang VCT untuk mengontrol dan menjaring HIV di 9 kecamatan termasuk kota sejak tahun anggaran 2007-2008. “Bagi yang dicurigai dan terindikasi akan digiring ke VCT,” tegas Wabup. Baginya, masalah HIV atau AIDS harus dibongkar dan dibeberkan tanpa harus malu hal tersebut di-cap sebagai aib.
Masalah HIV juga harus dicarikan solusinya, disamping dibatasi. “Membatasi apakah cukup hanya dengan moral, pemahaman atau kondom?? Solusi juga harus dicari,” ujar Arga. Apalagi pemerintah telah menyediakan 115 ribu kondom untuk mencegah penularan HIV.
Pemasangan VCT rupanya memberikan hasil bahwa terjadi peningkatan yang signifikan terhadap masalah ini. “Kami berharap KPA provinsi menelaah kasus yang terjadi di Buleleng,” pungkas Arga.(rindz)
Putu Ayu Rindra DP.
Mahasiswa Ilmu Komunikasi 2006
Universitas Brawijaya
Wartawati Tabloid xpOse, Singaraja, Bali
(Berita ini juga bisa dibaca di Tabloid Pendidikan xpOse, Singaraja)