Baca Ini : “Jangan Ditonton!”
Dalam ilmu komunikasi dikenal sebuah teori yang bernama Teori Kultivasi. Teori ini dicetuskan oleh George Gerbner yang mempercayai bahwa televisi adalah pengalaman bersama dari semua orang, dan mempunyai pengaruh memberikan jalan bersama dalam memandang dunia.
Seperti yang kita tahu, televisi telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak perlu memiliki keahlian khusus atau pengetahuan tinggi untuk menikmati televisi. Semua orang dapat dengan mudah menikmati sajian dalam televisi (khususnya hiburan). Televisi seolah menjadi sumber utama dari sosialisasi dan informasi. Tak jarang, semua yang disajikan televisi seolah-olah adalah realitas yang sesungguhnya dalam kehidupan. Padahal, hampir semua unsur yang ada dalam televisi (drama, iklan, berita, sinetron, reality show, dll) terkadang melewati batas “normal” kehidupan. Tak jarang, hal inilah yang kemudian ditiru oleh hampir semua lapisan masyarakat.
Gerbner menyebut proses ini sebagai cultivation (kultivasi), karena televisi dipercaya dapat berperan sebagai agen penghomogen dalam kebudayaan. Teori kultivasi sangat menonjol dalam kajian mengenai dampak media televisi terhadap khalayak. Dalam McQuail (1996:254), Gerbner menyebut televisi telah mendapatkan tempat yang sedemikian signifikan dalam kehidupan sehari-hari sehingga mendominasi “lingkungan simbolik” kita, dengan cara menggantikan pesannya tentang realitas bagi pengalaman pribadi dan sarana mengetahui dunia lainnya.
Kultivasi erat kaitannya dengan media violence atau kekerasan dalam media. Masih ingat dengan kasus smackdown yang hak tayangnya dihentikan? Tayangan smackdown dihentikan lantaran dikhawatirkan dapat menimbulkan efek negatif yakni membuat penontonnya melakukan kekerasan dalam dunia nyata. Sebenarnya, kekerasan dalam media tak melulu tentang baku hantam. Kekerasan itu juga meliputi hal lain seperti masuknya unsur porno dalam sebuah tayangan di televisi ataupun acara-acara yang terkesan membohongi penontonnya.
Selain sinetron, saat ini penonton televisi dikepung dengan serbuan acara yang berkedok “reality show”. Konsep reality show seharusnya menampilkan kisah nyata yang benar-benar terjadi tanpa ada unsur rekayasa sedikitpun. Tapi apa yang terjadi? Tayangan reality show justru dibuat-buat bahkan didramatisasi. Pemain dalam reality show juga melewati proses casting, sehingga dipilih yang benar-benar jago akting. Fenomena ini jelas-jelas memberikan penegasan bahwa reality show telah membohongi penontonnya.
Di sisi lain, reality show sebagian besar juga mengeksploitasi kemiskinan yang ada di Indonesia karena hal ini dilansir lebih menyentuh dan menggugah perasaan penontonnya. Cara ini rupanya cukup efektif, mengingat tayangan reality show menempati rating tinggi bahkan sedikit menggeser kedudukan sinetron.
Sebagai penonton yang bijak, sudah saatnya kita memilih-milih tontonan yang pas untuk kita. Pilih tayangan yang sesuai dengan nilai-nilai yang berlaku dan tentunya bersifat rasional. Teori kultivasi telah mengingatkan, tayangan di televisi adalah sumber utama yang ditiru dalam kehidupan. Tayangan yang marak di televisi tentunya adalah cerminan dari penontonnya. Semakin banyak yang menonton, maka ratingnya akan semakin tinggi. Semakin tinggi rating, maka semakin banyak dilakukan produksi tayangan seperti itu. Tayangan yang tidak bermutu itu sebenarnya bisa diminimalisasi oleh penontonnya sendiri. Bagaimana caranya? Susah-susah gampang, tapi memang hanya ada satu jawaban. “Jangan ditonton!”.
Putu Ayu Rindra DP.
Mahasiswa Ilmu Komunikasi 2006
Universitas Brawijaya