Ketika Insting itu Harus Dibendung
Tubuh-tubuh mungil bergerombol dan menebar bau matahari. Rambut kuning, berkulit legam dan lengket oleh kotoran aspal. Masing-masing memegang alat musik seadanya. Di lampu merah...
Masa kecil adalah masa yang paling indah. Dimanja oleh orang tua dengan limpahan kasih sayang. Bebas bermain dengan teman-teman sebaya. Serta mengejar mimpi di sekolah. Tapi bagi ”mereka”, bayangan itu seolah lesap oleh hiruk pikuk jalanan.
Mereka adalah anak-anak yang tidak berkesempatan untuk menjalani hidup dengan normal selayaknya anak kecil. Tak ada kesempatan untuk bermain atau bersekolah. Di usia yang terbilang dini, mereka harus sudah memikirkan ”Bagaimana hidupku hari ini? Hari ini aku makan apa?”. Jalanan adalah rumah mereka. Pojok lampu merah adalah tempat mereka mengais rejeki sekaligus belajar tentang kehidupan. Itu mereka lakoni dari pagi hingga siang, petang, bahkan malam. Padahal anak-anak lain yang kebetulan beruntung, menghabiskan waktunya di sekolah. Menuntut ilmu dan belajar berbagai hal. Ironis, padahal pemerintah telah berikrar ”fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara”, tapi mereka tetap saja ada memenuhi rongga-rongga jalanan.
Tidakkah ada yang menyadari bahwa mereka adalah aset bangsa yang sangat berharga. Mereka juga tonggak penerus bangsa. Mereka adalah penentu bagaimana bangsa ini di masa depan. Tapi hanya sedikit yang peduli, karena mereka lebih banyak menerima cibiran dan selalu saja dipandang sebelah mata.
Sebelum terlambat, anak-anak ini benar-benar harus segera ditarik dari jalanan. Semakin lama mereka berkutat di jalanan yang keras, maka akan semakin sulit untuk menawarkan kehidupan normal pada mereka. Karena tempaan jalanan yang keras akan membuat mereka semakin mencintai jalanan dan tidak akan betah ketika berada di area ”rumahan”.
Melongok Rumah Singgah
Sebenarnya telah banyak berdiri rumah-rumah singgah yang bersedia menampung anak-anak ini. Dua diantaranya adalah Jaringan Kemanusiaan Jawa Timur (JKJT, red) dan sanggar Griya Baca yang ada di kota Malang, Jawa Timur. Namun, ada fenomena menarik yang terjadi di JKJT. Beberapa anak yang telah ditampung disitu ada yang merasa ”tidak betah” dan akhirnya kembali turun ke jalan. Bukan perkara tempat yang tidak nyaman, atau sang pemilik yang memperlakukan buruk tapi memang lantaran kondisi psikis dari anak itu sendiri.
Agustinus Teja, pemilik JKJT sendiri tidak pernah memaksa mereka tinggal dan hidup wajar di JKJT untuk menikmati masa kanak mereka. “Biarkan keinginan hidup wajar itu muncul dari keinginan mereka sendiri,” begitu jawab Teja yang menerapkan home schooling dan mengajarkan musik di JKJT. Teja yang juga Ketua Perlindungan Anak Kota Malang mengakui jika insting jalanan mereka-lah yang kembali menarik untuk turun lagi ke jalan.
JKJT menampung sekitar 17 hingga 25 anak, padahal menurut Teja masih ada sekitar 218 anak di Malang yang berkeliaran di jalan tanpa rumah dan orang tua. Di JKJT, memang tidak semua anak bisa ditampung dengan bebas. Selain terkendala tempat, Teja juga enggan menyatukan anak laki-laki dan perempuan untuk menghindari hal-hal amoral. Tak heran, begitu masuk JKJT saya disambut oleh sekumpulan anak laki-laki. ”Doakan saja mudah-mudahan ada rejeki agar bisa membangun tempat untuk menampung semua anak-anak itu,” tuturnya penuh harap. Di sisi lain, Teja adalah tipikal orang yang sangat ketat dalam menerima bantuan dari orang lain untuk menghindari pihak-pihak yang hendak memanfaatkan anak-anak itu. Menurutnya, di Malang memang banyak rumah singgah, tapi sayangnya beberapa rumah singgah hanya sekedar mengobyekkan mereka untuk mendapatkan “proyek” besar dan bernilai rupiah tentunya.
Pola ”Mendampingi”
JKJT menerapkan sistem pendampingan dalam mendidik anak-anak jalanan. Mereka diarahkan agar bisa melihat kekurangan mereka sebagai kelebihan. Teja sendiri mengakui bahwa anak-anak yang telah terbiasa hidup di jalan rata-rata pintar, hanya saja mereka tidak memiliki kesempatan yang bagus. Mereka pun memiliki spirit dan power untuk sama dengan yang lain. Satu hal yang patut dicontoh, anak-anak jalanan juga memiliki rasa solidaritas dan disiplin yang tinggi.
Terpenting yang ditanamkan Teja pada ”anak-anak”nya adalah kemandirian dan keharusan untuk memiliki mimpi. ”Kalau udah punya mimpi, maka kita (JKJT) akan bantu untuk memperjuangkan mimpi itu,” kata Teja menegaskan. Saat ini JKJT menerapkan home schooling bagi anak-anak yang tinggal disana karena rata-rata memang tidak mengecap pendidikan formal. Teja dibantu oleh volunteer dari bebagai kalangan, mulai dari mahasiswa, guru, hingga native speaker yang mengajarkan bahasa inggris.
Berbeda dengan JKJT, anak-anak di Sanggar Griya Baca milik Triyanto 80% sudah mengecap bangku sekolah. Meski demikian, Griya Baca tetap memberikan pelajaran rutin setiap hari Selasa dan Sabtu sore di alun-alun Kota Malang. ”Mereka diajarkan membaca, menulis, mengaji, bahasa inggris, menyanyi, dan banyak lagi,” tutur Triyanto saat ditemui di salah satu acara kemahasiswaan Universitas Brawijaya Malang yang kebetulan mengundang Sanggar Griya Baca.
Tapi perlu diingat satu hal. Meski hidup mereka (anak-anak jalanan, red) keras dan terkadang tidak bersahabat, mereka tidak pernah mengharap belas kasihan dari siapapun. Tapi anggaplah mereka menjadi bagian dari hidup kita, bahwa mereka sama seperti orang-orang yang kebetulan hidup lebih beruntung. Jadi, tugas kita adalah bagaimana memunculkan kesadaran hidup wajar dalam benak anak-anak tersebut.
Putu Ayu Rindra DP.
Mahasiswa Ilmu Komunikasi 2006
Universitas Brawijaya